Rabu, 30 November 2016

Paket Umroh Murah Desember 2017, Agen Umroh Murah 2017 Jakarta, Biro Umroh Murah 2018 Surabaya, Paket Umroh Murah 10 Juta, Paket Umroh Murah dan Terpercaya

Paket Umroh Murah Desember 2017, Agen Umroh Murah 2017 Jakarta, Biro Umroh Murah 2018 Surabaya, Paket Umroh Murah 10 Juta, Paket Umroh Murah dan Terpercaya

Keunikan Ibadah Haji

Ibadah haji adalah rukun islam yang kelima dan merupakan ibadah yang unik, lain dari ibadah yang lain. Dalam hal tempat pelaksanaannya saja, ibadah haji harus dilaksanakan di Masjidil Haram di tanah suci Makkah Al-Mukarromah dan sekitarnya. Berbeda dengan ibadah atau rukun islam yang lainnya. Mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan ibadah sholat, puasa, zakat, atau yang lainnya, tidak harus dilakukan di tanah suci Makkah dan sekitarnya, tetapi boleh dilakukan di mana saja di muka bumi ini.
Dalam waktu pelaksanaannya juga berbeda, yaitu pada bulan-bulan haji, dari 1 Syawal hingga akhir Wuquf di Arofah tanggal 9 dan malam 10 Dzuhijah, sampai selesai. Waktu efektifnya adalah tanggal 9 Dzulhijah hingga selesai, kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih 1 pekan. Jadi, waktu pelaksanaan ibadah haji hanya sekali untuk setiap tahunnya. Sedangkan ibadah-iabadah lain (selain sholat Id, sholat Gerhana, dan semacamnya) bisa dilaksanakan sepanjang tahun, termasuk puasa di bulan Ramadhan, di mana jika tidak dapat dilaksanakan pada bulan Ramadhan, boleh digantikan pada bulan yang lain. Berbeda halnya dengan ibadah haji, ia tidak dapat dilaksanakan di hari atau di bulan-bulan lainnya.
Demikian pula dalam sifat dan cara pelaksanaannya, juga terdapat perbedaan yang sangat menyolok. Proses pelaksanaan ibadah haji harus dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, yang terkadang sangat merepotkan dan cukup melelahkan, sehingga untuk melaksanakan ibadah haji dengan hasil yang lebih baik dan lebih sempurna, sangat memerlukan fisik yang kuat dan tenaga yang prima, seperti dari Miqot berangkat ke Arofah, kemudian berangkat ke Muzdalifah untuk Mabit, lalu ke Mina untuk melempar Jamarat dan Mabit, kemudian  berangkat ke Masjidil Haram di Makkah untuk Thowaf Ifadhoh dan Sa’i antara Shofa dan Marwah. Semua ini tidak terdapat dalam pelaksanaan ibadah-ibadah lain, seperti sholat, puasa, dan sebagainya.
Ada lagi keunikan dari ibadah haji, yaitu amalan-amalan yang wajib dilakukan di dalamnya termasuk hal-hal yang tidak lazim, sulit dimengerti, atau bahkan tidak masuk akal. Misal, pakaian Ihrom bagi jamaah haji pria yang hanya terdiri dari dua lembar kain Ihrom dan tidak berjahit (tidak bersambung sebagaimana sarung) dan dilarang memakai celana dalam atau celana pendek, padahal suasananya amat ramai dan berdesak-desakan di antara jutaan manusia, sehingga bisa saja pakaian itu terlepas dan telanjang bulat.
Contoh lain, dalam situasi yang amat ramai dan berdesak-desakan tersebut bagi yang sedang berihrom haji atau umroh tidak boleh memakai wangi-wangian untuk badan atau pakaian Ihromnya, sekalipun untuk menghilangkan bau tak sedap dari badan atau pakaian. Demikian halnya dengan melempar Jamarat, masing-masing tujuh kali, mengelilingi Kakbah, dengan posisi Kakbah yang mulia tersebut berada di sebelah kiri kita, bukan di kanan, Sa’i antara Shofa dan Marwah secara berulang-ulang, dan sebagainya.
Semua ini oleh Allah SWT dimaksudkan untuk menguji keimanan dan kepatuhan para hamba kepada-Nya dan tidak dimaksudkan agar dapat dicerna oleh pikiran. Semua itu dimaksudkan agar penghambaan dan persembahan jamaah haji yang dihaturkan kepada Allah SWT dalam berbagai rangkaian amalan ibadah haji akan tampak lebih sempurna sebagaimana yang dilakukan oleh para malaikat dalam penghambaannya kepada Allah SWT.
Berbeda dengan amalan atau ibadah lain, seperti zakat. Pembagian zakat kepada fakir miskin akan sedikit meringankan beban hidupnya, di samping bisa menjadi tali asih yang menjembatani jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dan sebagainya. Hal ini cenderung bisa diterima oleh akal pikiran manusia. Demikian halnya dengan puasa yang dapat mengarungi atau menolak keinginan-keinginan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke jalan yang sesat, di samping juga hikmah-hikmah puasa yang lain. Hal ini juga bisa diterima oleh akal pikiran manusia. Begitu pula dengan sholat yang mengandung banyak rahasia dan hikmah di dalam setiap gerakan (posisi) dan bacaannya. Dalam hal ini, akal pikiran manusia juga bisa menerima.
Lantaran akal pikiran manusia dapat memahami dan menerima hikmah ibadah-ibadah selain haji tersebut maka manusia akan lebih mudah menjalankan dan menerapkannya. Berbeda dengan rangkaian ibadah haji, seperti Ihrom, larangan memakai wewangian, melempar Jumroh, bersa’i kesana-kamari, dan amalan-amalan ibadah haji lainnya. Jiwa manusia tidak akan tertarik melakukan hal-hal tersebut dan akal pikirannya juga tidak mampu mencerna dengan tepat hikmah-hikmahnya, sehingga amalan-amalan dalam rangkaian ibadah haji itu semata-mata merupakan perintah yang harus dilakukan dan kewajiban yang harus dikerjakan. Maka, akal pikiran manusia untuk sementara waktu harus diabaikan dan dicurahkan seluruhnya untuk pengabdian dan penghambaan diri semata-mata kepada Allah SWT. Hanya iman dan keyakinan yang terpatri dalam hati itulah satu-satunya yang mendorong manusia untuk melakukan semua rangkaian amalah ibadah haji dengan penuh ketaantan, semangat yang tinggi, keikhlasan karena Allah. Oleh karena itu, secara khusus Rasulullah bersabda dalam hajinya :  “Aku penuhi panggilan-Mu untuk berhaji semata-mata untuk pengabdian dan pengahambaan diri (seperti layaknya hamba sahaya yang sangat patuh pada perintah tuannya).”
Oleh karena itu, ketika seseorang melakukan ibadah haji, hendaknya berperilaku seperti hamba sahaya yang sangat patuh dan menyadari akan kehambaan dirinya pada tuannya. Apapun yang diperintahkan tuannya akan selalu dilakukannya sesuai perintah dengan penuh kepatuhan, kesungguhan, dan sebaik mungkin agar tuan besarnya puas, senang dan ridha kepadanya, walaupun mungkin dia kurang berkenan dengan perintah-perintahnya. Begitu pula dengan ibadah haji, walaupun jamaan tidak berkenan dengan seluruh rangkaian ibadah haji, juga tidak sesuai dengan naluri dan akal pikirannya, tetapi demi mendapatkan keselamatan, anugerah, kasih sayang, abrokah, dan ridha Allah SWT, hendaknya itu semua mereka lakukan dengan penuh kepatuhan, keyakinan, kesabaran, kesungguhan, dan keikhlasan sesuai yang diperintahkan-Nya dan dengan cara yang benar.
Untuk itu, jamaah haji selalu diarahkan dan diingatkan akan kenyataan yang ada di dalam pelaksanaan ibadah haji yang sangat berbeda dari ibadah-ibadah yang lain, dengan memperbanyak bacaan talbiyah diiringi shalawat serta doa. Ucapan “Labbaikallahumma labbaik, Labbaika la syarika laka labbaik...dan seterusnya, adalah bacaan khas pelaksanaan ibadah haji, yang artinya “Saya penuhi penggilan-Mu, ya Allah (dengn melaksanakan semua perintah-Mu dan mematuhi semua aturan-Mu). Saya penuhi panggilan-Mu (saya tidak akan membangkan terhadap perintah dan aturan-Mu). Saya penuhi panggilan-Mu (apapun perintah dan titah-Mu akan saya lakukan dengan penuh keyakinan semata-mata karena Engkau). Tiada sekutu bagimu.”

Jamaan haji hendaknya bisa memahami dan menghayati dengan baik makna talbiyah tersebut agar rangkaian ibadah haji yang sedang dijalankannya bisa terlaksana dengan baik, tersebut oleh keyakinan yang kuat bahwa amalan haji merupakan perintah Allah SWT yang harus dijalankan, sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatan yang tulus seorang hamba kepada Tuhannya serta mengharap pahala dan ridha-Nya. Jika suatu saat dalam pikiran terlintas bahwa amalan-amalan ibadah haji itu tidak masuk akal, hendaknya segera ingat terhadap bacaan talbiyah berikut maknanya. Apabila jamaah haji sudah memahami makna talbiyah dengan baik, berarti mereka telah memahami tujuan dari ibadah haji, yaitu perhambaan diri seorang hamba secara total kepada Allah SWT dengan penuh keyakinan dan keimanan.

Paket Umroh Murah Desember 2017, Agen Umroh Murah 2017 Jakarta, Biro Umroh Murah 2018 Surabaya, Paket Umroh Murah 10 Juta, Paket Umroh Murah dan Terpercaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar